Latest Entries »

Mereka Mencerdaskan Kaum Jelata

Erlangga Djumena | Minggu, 11 Maret 2012 | 08:59 WIB

KOMPAS.com – Anak-anak berusia 4-6 tahun belajar dengan gratis di Rumah Singgah Taman Indira di Bulakan, Pondok Ranji, Tangerang Selatan, Kamis (1/3/2012).

Siapa peduli pada pendidikan bagi kaum jelata? Sejumlah warga mendedikasikan diri membangun sekolah gratis dengan pemikiran sederhana: ikhlas berbagi untuk yang papa.

Pasangan Fuady Munir (63) dan Sri Tjendani (62) sekitar awal tahun 2000 pernah menjebol tembok belakang rumah mereka di kawasan Jalan Maleo, Bintaro, Tangerang Selatan, hanya untuk memberi akses belajar kepada anak-anak kampung. Fuady Munir gerah melihat banyak anak kampung tidak bersekolah.

Sebagai orang yang pernah bekerja di British Council, Fuady memulai dengan mengajar bahasa Inggris. Istrinya, Sri Tjendani, yang aktif di kelompok pengajian mulai berpikir untuk merangkul lebih banyak anak. Berdirilah Yayasan Maleo dengan Sri sebagai ketua umum. Sejak 6 Agustus 2005, yayasan ini mendirikan SMP Terbuka Ibnu Sina, sekolah gratis bagi anak-anak kurang mampu.

Sri ingat, pada saat memasang spanduk pendaftaran sekolah gratis, seseorang datang dan mewakafkan 1.000 meter persegi tanahnya. Karena lokasinya yang jauh, donatur yang tak mau disebut namanya itu menjual tanah tersebut dan memberikan seluruh dananya kepada Yayasan Maleo. ”Hebatnya, tanah itu terjual hanya dalam seminggu,” tutur Sri dengan mata berkaca-kaca.

Di atas tanah wakaf itulah kini gedung permanen SMP Terbuka Ibnu Sina berdiri dan menampung 59 siswa. Sebagai sekolah gratis, Ibnu Sina pada awalnya babak belur. ”Tetapi, niat kita hanya menolong orang yang tidak mampu…,” ujar Ketua I Yayasan Maleo Astrida Daulay.

Cepi J Malik, Pembina Yayasan Maleo, mengatakan, semua tenaga pengajar di SMP Terbuka Ibnu Sina adalah relawan, tanpa dibayar. Meski begitu, mereka memiliki kualifikasi pendidikan terendah S-1, bahkan beberapa di antaranya S-2 dan S-3. Cepi sendiri, selain penyandang dana tetap, juga terjun sendiri mengajar anak-anak yang membutuhkan perhatian itu.

Tak kenal sosis

Liana Christanty (52) memilih laku dan jalan hidup serupa meski tinggal di Surabaya. Ceritanya berawal dari sosis. Ketika berjalan-jalan tidak jauh dari rumahnya di Kelurahan Lontar, Kecamatan Sambikerep, Surabaya, Liana bertemu anak-anak jalanan. Setelah berbicara, ia mengajak anak-anak itu ke rumahnya untuk sekadar makan. Kebetulan juru masak sedang membuat nasi goreng telur bertabur sosis. Anehnya, kata Liana, anak-anak jalanan itu tidak memakan sosis. ”Ternyata mereka bukan tidak suka, tetapi mereka belum pernah makan sosis, bahkan tidak tahu itu sosis,” tutur Liana.

Kejadian itu membekas di hati Liana. Ia lalu membuka rumahnya bagi anak-anak jalanan yang ingin sekadar makan. ”Rata-rata mereka loper koran dan pengamen,” katanya.

Karena mengetahui sebagian dari mereka buta huruf, Liana berinisiatif mendatangkan guru dan memberi mereka pelajaran. Aktivitas itu mendorong Liana memutuskan tidak lagi membantu kerja suaminya, ia fokus mengurus anak-anak jalanan. Tahun 2008 berdirilah Sekolah Pelita Permai di bawah Yayasan Kasih Pengharapan.

Liana mengontrak dua rumah senilai masing-masing Rp 15 juta per tahun untuk disulap menjadi sekolahan. Di situlah kini terdapat kelas TK A dan TK B serta SD sampai kelas III. Para murid sekolah ini umumnya warga kampung kumuh di pinggiran Kota Surabaya yang orangtua mereka tak mampu menyekolahkan anak mereka di sekolah berbiaya.

Viloh Menanangung (28) yang siang itu mengantar anaknya ke Sekolah Pelita Permai mengatakan, Kartono Budiman (6) berubah banyak setelah bersekolah. Dulu Kartono sering berbicara kasar karena bergaul dengan orang dewasa. Kini, ia sudah lebih santun. Sebagai orang kecil, Viloh bersyukur anaknya bisa bersekolah di sekolah gratis.

Liana bercerita tidak hanya mengurus soal sekolah anak- anak. Kesibukannya pun bertambah-tambah karena banyak anak yang tidak punya kebiasaan mandi. Ia dan para relawan memandikan anak-anak, muridnya, di sekolah. Pekerjaan Liana bahkan sampai mengurus akta kelahiran anak-anak didiknya. ”Banyak orangtua yang tak punya surat nikah. Jadi, anak-anak ini juga tidak punya akta kelahiran,” katanya.

Fondasi karakter

Novelis Ahmad Fuadi mendedikasikan seluruh royalti novel Negeri 5 Menara untuk membangun Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Komunitas 5 Menara di kawasan Pondok Ranji, Bintaro. Meski baru dimulai setahun lalu, PAUD ini sudah merekrut 35 anak. Pada awalnya Ahmad Fuadi dan para relawan menyisir kampung di sekitar rumahnya untuk mencari anak-anak dari keluarga kurang mampu yang belum bersekolah.

Bahkan, kini PAUD Komunitas 5 Menara menampung Kendra (5), anak autis yang membutuhkan perhatian lebih khusus. ”Awalnya sulit, tetapi dengan sabar, alhamdulillah sekarang Kendra sudah bisa menahan diri,” kata Kepala Sekolah PAUD Komunitas 5 Menara Atikah (42).

Sekolah ini didirikan Ahmad Fuadi dengan mengontrak tanah kosong di dekat perumahan Bintaro Jaya. Ia kemudian mendirikan dua bangunan sederhana yang dijadikan kelas TK A dan TK B. Meski bangunannya sederhana, ruangannya boleh dibilang sekelas dengan sekolah- sekolah swasta berbayar mahal. ”Saya ingin mereka juga bisa menikmati fasilitas terbaik,” kata novelis yang novelnya, Negeri 5 Menara, baru saja difilmkan itu.

Menurut Fuadi, dia memilih pendidikan usia dini karena sadar bahwa tingkat ini menjadi saat- saat meletakkan fondasi karakter dan budi pekerti anak. ”Orang pintar di Indonesia banyak, tetapi banyak juga yang korupsi. Jadi, soal kognitif saja tidak cukup,” katanya.

Mantan presenter Dik Doank lebih kurang punya kepedulian yang sama. Dik membangun komunitas yang dia sebut Komunitas Kreativitas Kandank Jurank Doank (KJD) di kawasan Sawah Baru, Ciputat, Tangerang Selatan. Bersama 70 relawan di KJD, Dik mengajar anak-anak dalam sekolah informal yang menekankan pengajaran seni. Anak- anak yang bergabung di sini tidak dibatasi ruangan kelas, mereka belajar layaknya di sekolah alam. Di KJD, antara lain, disediakan fasilitas perpustakaan, arena bermain, kolam ikan, serta ruang- ruang berlatih musik, tari, dan menggambar. Asal tahu, semua pengajarannya berlangsung secara gratis.

Karena sekolahnya informal, kata Dik, puluhan anak yang tergabung di KJD tidak pernah mengikuti ujian. ”Ujian untuk anak-anak ini nantinya dalam kehidupan nyata mereka,” katanya. Meski sedang berada dalam puncak karier sebagai artis penyanyi, Dik meninggalkan segalanya agar bisa lebih fokus mengurus anak-anak. Ia memulai semuanya pada tahun 1993 dengan dana dari koceknya sendiri. ”Allah yang membuat semua ini besar, mungkin karena semua datang dari hati dan cinta,” katanya.

Mereka melakukan segalanya dengan ikhlas dan penuh pengharapan agar generasi bangsa ini menuju arah yang lebih baik. Prinsipnya, lebih baik berbuat kecil daripada menunggu langkah besar pemerintah yang entah kapan datangnya…. (CAN/WKM/DAY/ARA/MYR)

Sumber: http://edukasi.kompas.com/read/2012/03/11/08594593/Mereka.Mencerdaskan.Kaum.Jelata

Senin, 10 Mei 2010 | 04:23 WIB

Jakarta, Kompas – Kreativitas dan daya inovasi anak didik akan tumbuh jika guru dan seluruh pemangku kepentingan pendidikan mengubah cara berpikir yang konvensional dan kaku. Anak harus diberi peluang dan kebebasan dalam lingkungan pembelajaran yang menyenangkan agar bisa mengeksplorasi seluruh potensi dirinya.

”Guru harus sabar memfasilitasi anak,” kata Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal seusai meresmikan program Magister Manajemen Entrepreneurship dan S-1 Manajemen Entrepreneurship di Universitas Tarumanagara, Jakarta, Sabtu (8/5).

Jika pada jenjang pendidikan usia dini dan sekolah dasar telah diketahui persis potensi anak, lanjut Fasli, barulah dibangun pengenalan pembelajaran kewirausahaan pada jenjang SMP dan SMA. ”Pada jenjang itu mulai diajari bagaimana mengenal potensi diri,” ujarnya.

Pendiri Universitas Ciputra Entrepreneurship Center, Ciputra, juga menekankan pentingnya pembelajaran kewirausahaan sejak dini dengan cara merangsang cara berpikir kreatif. ”Harus ada kurikulum di pendidikan usia dini dan dasar yang merangsang cara berpikir kreatif,” ujarnya.

Sampai saat ini kurikulum khusus kewirausahaan di jenjang SMP dan SMA belum ada. Namun, menurut Fasli, yang terpenting bukan kurikulum, melainkan cara berpikir guru yang harus diubah. Perlu konsistensi guru untuk memfasilitasi anak agar bisa berpikir ”di luar kotak”.

Menurut Ciputra, kewirausahaan tidak harus bergantung pada bakat. ”Setiap orang bisa wirausaha asal dilatih untuk melihat peluang yang tidak dilihat orang lain. Kewirausahaan bisa dipelajari,” ujarnya. (LUK)

sumber: http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/05/10/04233628/guru.harus.menjaga.kreativitas.anak

JAKARTA, KOMPAS.com – Rendahnya tingkat kelulusan ujian nasional (UN) tingkat sekolah menengah atas (SMA) kembali terulang di tingkat sekolah menengah pertama (SMP). Sebanyak 28,97 persen atau 39.179 siswa SMP dinyatakan tidak lulus UN. Bahkan angka kelulusan UN tahun ini mengalami penurunan cukup tajam dibanding tahun lalu yang mencapai 99,8 persen.

Saya mendapat kabar, Jakarta ada dalam posisi yang buruk. Saya prihatin. – Fauzi Bowo

Data Dinas Pendidikan DKI Jakarta menyebutkan, dari 135.236 peserta UN SMP tahun 2010, hanya sebanyak 95.057 siswa atau 71,03 persen yang dinyatakan lulus. Sedangkan sisanya dinyatakan tidak lulus.

Rinciannya, dari total peserta UN SMP sebanyak 118.764 siswa, yang dinyatakan lulus 88.272 siswa (74,33 persen) dan yang tidak lulus sebesar 30.492 siswa (25,67 persen). Sedangkan dari 1.702 peserta UN SMP Terbuka, yang dinyatakan lulus hanya sebanyak  375 siswa (22,03 persen) dan tidak lulus 1.327 siswa (77,97 persen). Sementara dari 14.770 peserta UN Madrasah Tsanawiyah,

7.410 siswa (50,17 persen) dinyatakan lulus dan sebanyak 7.360 siswa (49,83 persen) tidak lulus.

Tingkat kelulusan UN SMP tahun ini lebih rendah dibanding tahun 2009. Dari 132.956 peserta UN, yang dinyatakan lulus 132.697 atau 99,805 persen. Sedangkan yang tidak lulus sebanyak 259 siswa atau 0,195 persen.

Sedangkan nilai rata-rata hasil UN untuk empat mata pelajaran yaitu Bahasa Indonesia 7,23, Bahasa Inggris 6,37, Matematika 6,31 dan IPA dengan nilai rata-rata 6,46. Siswa yang mendapatkan nilai 10 pada mata pelajaran Bahasa Indonesia ada 14 siswa, mata pelajaran Bahasa Inggris ada 271 siswa, mata pelajaran Matematika ada 1.150 siswa, dan IPA 1.406 siswa.

Rendahnya tingkat kelulusan UN SMP tahun ini membuat Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo prihatin. Fauzi Bowo mengatakan, meskipun pengumuman resmi dari Kementerian Pendidikan Nasional akan dikeluarkan pada Kamis sore (6/5/2010), namun Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menerima prediksi angka kelulusan UN SMP DKI Jakarta yaitu sebesar 71,03 persen. Sedangkan pengumuman kelulusan UN SMP 2010 akan diumumkan secara resmi kepada siswa peserta UN melalui SMS, telepon, website, email, surat via pos, kurir, dan ditempel pada papan pengumuman sekolah pada hari Jumat (7/5/2010), pukul 10.00.

“Saya mendapat kabar, Jakarta ada dalam posisi yang buruk. Saya prihatin dan tidak gembira dengan hasil ini,” kata Fauzi Bowo usai meresmikan 33 gedung sekolah di SMAN 77, Jakarta, Kamis (6/5/2010).

Fauzi Bowo mengakui hasil itu menunjukkan adanya penurunan angka kelulusan yang cukup signifikan. Artinya, ada puluhan ribu siswa SMP yang akan mengikuti UN ulangan yang akan digelar di 22 sub rayon pada 17-20 Mei 2010. Kendati demikian, Fauzi menegaskan angka kelulusan tersebut belum final untuk menggambarkan kualitas pendidikan di DKI Jakarta.

“Jangan langsung bilang hasil ini sudah final. Saya tegaskan angka ini belum final, masih bersifat sementara. Karena siswa yang tidak lulus masih diberi kesempatan untuk mengikuti UN ulangan,” ujarnya.

Namun, hasil UN utama itu merupakan peringatan keras bagi Pemprov DKI untuk melakukan pengkajian dan evaluasi UN secara serius. Agar mendapatkan formula tepat untuk mendongkrak angka kelulusan pada saat UN ulangan mendatang.

Untuk mendapatkan formula itu, Fauzi meminta seluruh stakeholder pendidikan melakukan evaluasi dan mengkaji secara mendasar, bukan mencari kambing hitam penyebab penurunan kelulusan. Pengkajian dan evaluasi melibatkan dewan pendidikan, Dinas Pendidikan DKI, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) DKI Jakarta, serta orangtua yang tergabung dalam Komite Sekolah. Diharapkan hasil evaluasi dan kajian itu dapat dijadikan bahan masukan untuk perumusan dan penyesuaian kebijakan di bidang pendidikan yang akan dikeluarkan dalam waktu dekat ini.

“Saya sudah minta hal itu dilakukan sejak adanya tanda-tanda yang menunjukkan angka kelulusan SMA menurun. Saya mengajak seluruh stakeholder pendidikan untuk berpikir secara komprehensif dan integral untuk mengkaji dan memperbaiki hal-hal yang perlu diperbaiki untuk menjamin tingkat kompetitif pendidikan di ibu kota,” ungkapnya. Dengan begitu, Pemprov DKI dapat meningkatkan unsur kompetitif siswa DKI Jakarta agar bisa tetap berada di garis depan dibandingkan siswa provinsi mana pun di Indonesia.

Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Taufik Yudi Mulyanto, mengatakan akan melakukan analisis terkait komponen-komponen apa saja yang menjadi penentu dari hasil proses belajar yang diaktualisasikan dalam UN. “Analisis harus tajam dan harus selesai sebelum UN ulangan. Masih ada 10 hari lagi untuk mempersiapkan siswa yang belum lulus,” ujar Taufik.

Untuk mempersiapkan siswa menghadapi UN ulangan, Taufik sudah menginstruksikan sekolah agar memperhatikan kondisi psikis siswa sebelum membimbing mereka dalam kegiatan remedial (penguatan materi). Dia meminta sekolah melakukan pendekatan perorangan terhadap siswa dan orangtua agar tidak putus asa saat mengetahui anaknya tidak lulus UN. Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan remedial setiap individu agar lebih efektif.

UASBN

JAKARTA, KOMPAS.com — Meskipun berlokasi di ibu kota, ternyata tidak semua sekolah di wilayah DKI Jakarta percaya diri menetapkan nilai minimal di atas 5,00. Penetapan nilai minimal kelulusan di bawah 5,00 itu umumnya dilakukan SD yang berada di daerah pinggiran yang memiliki siswa berasal dari keluarga tidak mampu.

Dana Helli, Kepala SDN Jembatan Besi 04 Jakarta, Rabu (21/4/2010), mengatakan, di sekolahnya hanya berani menetapkan standar kelulusan 3,5. “Kami melihat dari hasil try out, masih ada siswa yang tidak bisa mencapai standar minimal yang diharapkan. Tadinya, sekolah ini diharapkan berani mematok nilai kelulusan 4,” kata Dana.

Menurutnya, anak-anak di sekolah tersebut umumnya berlatar belakang dari keluarga tidak mampu. Sekolah sudah memberikan pelajaran tambahan sejak Oktober lalu, tetapi masih ada siswa yang tidak bisa mencapai nilai 4.

“Berdasarkan keputusan dewan guru dan komite sekolah, kami tetapkan nilai 3,5 saja. Kenaikan memang hanya sedikit dibanding tahun lalu,” papar Dana.

Dia mengatakan, sekolah ini termasuk paling buntut dalam keberhasilan UASBN di wilayah DKI Jakarta.

Ujian Nasional

JAKARTA, KOMPAS.com- Sejumlah SD di daerah menetapkan standar minimal kelulusan ujian akhir sekolah berstandar nasuional (UASBN) seperti yang ditetapkan pemerintah pusat pada pelaksanaan ujian nasional (UN) SMP dan SMA. Penetapan tersebut ada yang murni inisiatif sekolah, tetapi ada juga karena sudah diputuskan oleh dinas pendidikan setempat.

Rudi MS, guru SDN Cikoneng, Kabupaten Bogor, Rabu (21/4/2010), mengatakan, kriteria kelulusan diimbau untuk menyamai nilai minimal ujian nasional (UN) SMP yakni 5,5. Sekolah ini selalu menetapkan nilai minimal kelulusan 5,5 yang sudah disosialisasikan pada siswa dan orang tua murid sejak tiga bulan lalu.

Sudiyanto, Kepala SDN Kartamulia 1 Sukamara, Kalimantan Tengah, mengatakan sekolah-sekolah diimbau unit pelaksana teknis dinas pendidikan setempat untuk menetapkan standar kelulusan minimal 5,5. “Tidak ada perintah resmi, tetapi di tempat kami menetapkan standar seperti UN SMP yakni 5,5. Tujuannya supaya lulusan dari sekolah kami mudah menyesuaikan diri di SMP,” jelas Sudiyanto.

Sebanyak delapan siswa di sekolah ini, kata Sudiyanto, mendapat pelajaran tambahan usai pulang sekolah selama tiga kali seminggu. Para siswa diajar secara bergantian oleh guru sejak tiga bulan lalu khusus untuk mata pelajaran UASBN.

Dari hasil uji coba atau try out yang dibuat sesuai standar UASBN, nilai yang diraih siswa melampaui nilai minimal. “Kami merasa siap saja menerapkan standar kelulusan 5,5,” ujar Sudiyanto.

Laporan wartawan KOMPAS.com Caroline Damanik
Kamis, 1 April 2010 | 16:19 WIB

BANJARMASIN POST/KASPUL ANWAR

JAKARTA, KOMPAS.com — Setelah Ujian Nasional (UN) untuk siswa sekolah menengah pertama (SMP) berakhir pada hari Kamis (1/4/2010) ini, maka tinggal penyelenggaraan ujian kelulusan untuk sekolah dasar (SD). Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) akan digelar pada tanggal 4-6 Mei mendatang.

Anggota Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) Teuku Ramli Zakaria mengatakan, rencananya akan diikuti oleh 4.428.797 peserta di seluruh Indonesia. “Namun, beda dengan SMP dan SMA, kelulusan SD diserahkan kepada sekolah,” katanya dalam keterangan pers di Kemdiknas, Kamis (1/4/2010).

Hal ini, lanjut Ramli, disebabkan SD masih termasuk dalam program Wajib Belajar (Wajar) sehingga tidak bisa disamaratakan di seluruh daerah. Oleh karena itu, penyelenggaraannya pun diserahkan kepada provinsi. Proporsi soal didominasi oleh soal-soal dari daerah. Sekitar 75 persen dari 50 soal UASBN akan dibuat oleh daerah, sedangkan 25 persen lainnya dibuat oleh pusat dan akan dikirim ke daerah. “Karena daerah sendiri yang tahu standar daerahnya,” ungkapnya.

Sementara itu, Ramli juga menyatakan, seluruh daerah mengaku sudah siap untuk menyelenggarakan UASBN meski waktu penyelenggaraannya masih lama. “Di daerah yang saya kunjungi, misalnya, di Batam sudah dicetak soal. Tinggal dibagikan ke daerah dan sekolah,” tandasnya.

sumber: http://edukasi.kompas.com/read/2010/04/01/16191540/UASBN.Sekolah.Dasar.Digelar.pada.4.6.Mei.2010

Halaman ini berisi File Presentasi Pembelajaran TIK yang dapat dilihat secara online (langsung) di slideshare.net

1. Peralatan TIK – Pembelajaran TIK kelas 1SD

Drawing For Children adalah program untuk menggambar.

banyak hal yang dapat dilakukan seperti:

1. memunculkan gambar

2. mewarnai gambar

3. menggambar dan mewarnainya.

program ini diberikan untuk siswa-siswi kelas 1 dan 2 SD Perguruan “Cikini”

KEGIATAN:

PERINGATAN MAULID NABI MUHAMMAD SAW 1431 H

TEMA:

DENGAN PERINGATAN MAULID NABI KITA TELADANI AKHLAK DAN PERJUANGAN NABI MUHAMMAD SAW DALAM MENSYIARKAN DINNUL ISLAM

TUJUAN:

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW mempunyai tujuan :

  • Mengingatkan kembali kepada para murid kapan Nabi Muhammad SAW dilahirkan.

  • Meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW yang sangat mulia.

  • Meneladani perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam mensyiarkan Agama Islam.

  • Memberikan wadah bagi pembinaan beberapa jenis bakat siswa dalam bidang keagamaan.

Untuk Kelas I – II – III : Lomba Hafalan Juz Amma:

  1. Setiap kelas mengirimkan 4 orang peserta lomba.

  2. Wali kelas dan guru pen-dais memilih dan menentukan nama peserta lomba

  3. Materi lomba :

Kelas I :

  1. Al Fatihah
  2. An Nas
  3. Al Falaq
  4. Al Ikhlas
  5. Al Lahab
  6. An Nashr
  7. Al Kafirun
  8. Al Kautsar
  9. Al Ma’un
  10. Al Ashr

KELAS II :

  1. An Nas
  2. Al Falaq
  3. Al Ikhlas
  4. Al Lahab
  5. An Nashr
  6. Al Kafirun
  7. Al Kautsar
  8. Al Ma’un
  9. Al Fiil
  10. Al Quraisy
  11. Al Ashr
  12. Al Humazah
  13. Al Quraisy
  14. At Takatsur
  15. Al Qadar

KELAS III :

  1. Al Kafirun
  2. An Nashr
  3. Al Lahab
  4. Al Quraisy
  5. Al Ma’un
  6. Al Humazah
  7. Al Ashr
  8. Al Fiil
  9. Al Qadar
  10. At Tiin
  11. Al Adiyat
  12. Al Qariah
  13. At Takatsur
  14. Al Falaq
  15. Al Insyira

Untuk Kelas IV – V – VI : Lomba Dai Cilik

  1. Setiap kelas mengirimkan 2 orang peserta lomba.
  2. Peserta mempersiapkan sendiri naskah/isi ceramah dengan tema: MENELADANI AKHLAK DAN PERJUANGAN NABI MUHAMMAD SAW
  3. Durasi ceramah adalah 7 menit.
  4. Wali kelas dan guru pen-dais memilih dan menentukan nama peserta lomba.

Catatan penting:

Siswa dan siswi beragama Islam diharapkan menggunakan busana Muslim.

Sabtu, 13 Maret 2010 | 02:35 WIB

Triyono Lukmantoro

Terorisme merupakan persoalan komunikasi. Itulah problem yang sering kali diabaikan. Acapkali terorisme dilihat sebagai aksi kekerasan oleh sebuah organisasi yang didasarkan pada kekeliruan memahami ajaran keagamaan. Di situlah hujatan tajam pada kelompok religi tertentu kemudian berhamburan.

Memang, tak terlalu meleset jika kecaman selalu digulirkan sebab kelompok teroris telah menjalankan kebiadaban yang menewaskan banyak korban. Namun, yang dilupakan, mengapa organisasi radikal semacam itu tak gampang dikalahkan. Pembahasan tentang terorisme juga bermuara pada sorotan perubahan strategi yang dilaksanakan para pelaku.

Jika awalnya terorisme dikenali melalui aksi-aksi pengeboman atau bom bunuh diri mematikan, saat ini ada sinyalemen tindakan terorisme dioperasikan dengan mekanisme pemberontakan. Analisis itu memang tak terlampau berlebihan karena mampu mendorong aparat keamanan negara bertindak antisipatif. Hanya saja, fokus perhatian yang sedemikian ditonjolkan adalah terorisme seakan-akan hanya bisa diatasi dengan cara-cara represif.

Masalah lain adalah ketokohan para pelaku terorisme. Sejumlah ”nama besar”, seperti Dr Azahari, Noordin M Top, Dulmatin, atau siapa saja tokoh teroris yang berhasil ditangkap atau ditembak mati polisi pasti disambut dengan kemenangan histeris. Prestasi polisi itu, tentu saja, harus diapresiasi. Namun, di balik sorak kegembiraan itu tersembul pula pemujaan tentang kehebatan para teroris, misalnya, pengungkapan rekam jejak para teroris sebagai figur-figur yang pernah bertempur di Afganistan sampai kemampuan mereka dalam merencanakan peledakan.

Sorotan terhadap terorisme, akhirnya, berujung pada perputaran sikap ”membenci serta merindukan”. Mereka dibenci karena menggulirkan kehancuran dan ketakutan, dirindukan karena tindakan dan rencana jahat mereka mampu menimbulkan decak kekaguman. Dalam sirkulasi sikap ambigu itu, mereka jadi sejenis gerombolan antagonis yang dihadirkan dalam panggung melodrama yang digelar negara. Mereka digambarkan sebagai penjahat yang mengacaukan tatanan kehidupan yang berhasil diatasi aparat keamanan negara sebagai protagonis.

Patologi komunikatif

Filosof Jurgen Habermas melihat terorisme sebagai persoalan komunikasi. Menurut Habermas (dalam Giovanna Borradori, Philosophy in a Time of Terror: Dialogues with Jurgen Habermas and Jacques Derrida, 2003), merebaknya terorisme merupakan fenomena kegagalan komunikasi. Terorisme begitu merajalela akibat dialog menemui kebuntuan. Kekerasan, sebagai patologi komunikatif, jadi penengah yang mengaitkan fundamentalisme dan terorisme. Spiral kekerasan mulai ketika spiral komunikasi yang terdistorsi mengarah pada spiral ketidakpercayaan yang berjalan resiprokal.

Problem yang ditegaskan Habermas, terorisme bukan persoalan budaya ataupun ideologi, melainkan ekonomi. Ketimpangan akibat globalisasi mengakibatkan dunia terbelah: yang berdaya dan tak berdaya. Korban globalisasi makin mengalami pemiskinan. Dialog buntu diatasi dengan kekerasan. Ini dinilai keniscayaan. Terorisme adalah jawaban terhadap telinga penguasa yang tak sudi mendengarkan aspirasi yang terpinggirkan.

Selama ini, pelaku terorisme sengaja mengemas aksi kekerasan mereka dalam selubung agama, untuk menarik simpati. Atau, melalui bungkus religi, mereka mendapatkan justifikasi memadai. Seakan- akan tindakan yang dijalankan untuk membela ajaran agama. Padahal, agama dalam konteks itu sekadar jadi instrumen kekerasan sehingga teroris memperlakukan sesama manusia bukan sebagai tujuan, melainkan sebagai sarana. Manusia diposisikan sebagai perkakas yang dapat digilas oleh tindakan kekerasan.

Terorisme dapat dihindarkan—mengikuti pemikiran Habermas—jika semua pihak yang terlibat dalam globalisasi ekonomi punya kompetensi komunikatif. Di sini, partisipan seharusnya menjalankan tiga langkah.

Pertama, klaim kebenaran dikemukakan, baik oleh pihak pembicara dan pendengar. Kedua, pendengar mampu memahami dan menerima maksud pembicara. Ketiga, pembicara menyesuaikan diri dengan pandangan yang dikemukakan pendengar. Namun, itu tak terjadi karena ketidakjujuran dan ketidaktulusan merebak. Dari situ, kekerasan terus berkembang membentuk spiral tanpa berkesudahan. Kekerasan dibalas kekerasan.

Habermas tampaknya terlalu optimistis dengan tindak komunikatif. Komunikasi yang diandaikannya itu hanya bisa berhasil dalam dunia kehidupan (life-world) yang terlepas dari sistem yang ditentukan negara atau pasar. Dalam sistem yang sepenuhnya dikendalikan kekuatan birokratis dan kuasa permodalan, tindakan komunikatif mengalami kehancuran.

Ruang komunikatif yang terbuka, spontan, dan sederajat menghilang. Kekuatan yang tersisa: siapa mengendalikan kekuasaan dan siapa tidak mematuhi kekuasaan. Teroris ditempatkan negara (dan pasar) sebagai si devian (penyimpang) yang harus disingkirkan. Bukan saling pemahaman yang mampu dicapai, melainkan destruksi yang saling berbalasan.

Terorisme, sebagai bukti kegagalan komunikasi akibat pemberlakuan sistem represif, akhirnya justru dilihat sebagai komunikasi sebab, ungkap A Schmid (sebagaimana diuraikan Mike Larsen, Talking About Terrorism, 2006), negara begitu kuat sehingga mustahil bagi musuhnya untuk melakukan penghancuran yang berarti. Terorisme merupakan langkah simbolis dan aksi provokatif yang menuntut respons negara. Terorisme sebagai komunikasi dapat digunakan untuk menjelaskan relasi teroris dengan media massa. Teroris dapat keuntungan karena aksi brutal mereka diliput media. Sebalik- nya, media untung karena dogma yang dianut ”kabar buruk adalah berita bagus” atau ”makin berdarah-darah, makin meriah”.

Tentu saja, terorisme sebagai komunikasi tak mampu mencapai tujuan yang dikehendaki bersama. Kalau komunikasi yang baik mengarah pada pemahaman, komunikasi dengan teror melakukan pengkhianatan terhadapnya sebab teroris tak menunjukkan pesan jelas yang hendak disampaikan.

Komunikasi yang dijalankan dengan penciptaan ketakutan dan kehancuran, hanya memainkan semiotika (permainan tanda) kekerasan. Pihak-pihak dan aneka bangunan yang dimaknai teroris sebagai peradaban kaum sesat sengaja dihancurkan untuk mendapat ekstasi destruksi.

Para teroris yang berdalih melakukan komunikasi dengan teknik penghancuran makin menegaskan bahwa mereka adalah para penghuni sisi gelap komunikasi. Tiada maksud terpuji, kecuali merayakan kekerasan itu sendiri.

Dalam keadaan ini, gagasan Habermas patut direnungkan. Komunikasi hanya bisa dilakukan kalau semua pihak berkomitmen pada kejujuran, ketulusan, dan kejelasan dalam menyampaikan gagasan. Keinginan itu bisa diwujudkan jika terorisme tidak diperlakukan sebagai komunikasi, melainkan sebagai kejahatan yang bertentangan dengan kemanusiaan. Dialog sejati adalah aksi konkret melawan terorisme yang bersembunyi di sisi gelap komunikasi.

Triyono Lukmantoro Dosen FISIP Universitas Diponegoro

Sumber: http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/03/13/02353341/.sisi.gelap.komunikasi

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.