Sabtu, 6 Februari 2010 | 03:53 WIB

Oleh Arbain Rambey

Dalam acara yang digagas di Melbourne, Australia, akhir Januari lalu, Panasonic mengumumkan akan meluncurkan kartu memori generasi baru, SDXC, pada Maret mendatang.

Kehadiran SDXC yang merupakan varian terbaru kartu memori tipe SD jelas menunjukkan beberapa hal yang memberi kita sebuah kesimpulan. Pada masa mendatang, kartu memori untuk kamera adalah Secure Digital (SD), bukan beraneka ragam, seperti pada masa lalu.

SDXC yang merupakan kepanjangan dari Secure Digital Extended Capasity ini melanjutkan sukses pendahulunya Secure Digital High Capasity (SDHC). Sebelumnya, SDHC menyempurnakan SD (biasa), sementara SD sendiri sesungguhnya adalah pengembangan khusus dari kartu memori Multi Media Card (MMC).

Pada saat kamera digital mulai dikembangkan untuk umum menjelang akhir 1990-an, pilihan untuk kartu memori menjadi sangat terbuka. Pada tahun 1997, saat Kompas membeli kamera digital SLR pertama yang berkapasitas rekam gambar cuma 1,3 megapiksel (1.268 piksel x 1.012 piksel) seharga 16.000 dollar AS (sekitar Rp 48 juta waktu itu), kartu memori yang bisa diandalkan adalah hard disk PCMCIA berkapasitas 170 MB yang harganya (waktu itu) sekitar Rp 5 juta per buah.

Penampilan hard disk PCMCIA itu, seperti pada foto utama tulisan ini, sungguh sangat besar dibandingkan dengan kartu-kartu memori yang kemudian silih berganti bermunculan.

Persaingan sistem

Saat Kompas memakai kamera digital Kodak DCS dengan bodi Nikon F90X itu, sesungguhnya kartu memori Compact Flash (CF) sudah ada di pasaran. CF yang dirancang perusahaan Sandisk ini sudah tersedia di pasaran sejak akhir tahun 1994. Namun, saat itu kapasitas CF yang ada masih sangat kecil, seperti 4 MB, 8 MB, dan 16 MB, sehingga belum terlalu dilirik oleh perusahaan yang melahirkan kamera digital untuk kaum profesional.

Memasuki tahun 2000, CF berkapasitas makin besar, bahkan mencapai 512 MB sehingga mulai menjadi standar baru dalam pemakaian kamera digital SLR profesional era itu. Tidaklah mengherankan kalau kamera-kamera digital SLR yang diluncurkan pada awal abad ke-21 semua memakai CF, seperti Nikon D1 serta juga Canon EOS 1D dan EOS 1 DS.

Pada awal tahun 2000-an itu juga bermunculan bermacam jenis kartu memori. Keanekaragaman kartu memori ini muncul karena berbagai perusahaan sama-sama ingin mengembangkan sebuah sistem yang akan dipakai dunia di masa depan. Dengan belum adanya pengalaman digital yang memadai, sangatlah wajar kalau format penyimpanan dan bentuk kartu memori masih diperebutkan berbagai perusahaan yang menawarkan aneka keunggulan masing-masing.

Para pesaing CF bisa disebutkan, antara lain, adalah Memory Stick (MS) yang dibuat oleh Sony pada 1998. MS punya beberapa keunggulan dibandingkan CF, antara lain dari ukurannya yang tipis (sekitar 1 milimeter saja) sehingga mudah disisipkan pada sebuah buku atau dompet. Ini sangat memudahkan pengguna yang super sibuk yang ingin menyelipkan kartu memorinya dengan cepat. Bandingkan tipisnya MS dengan ketebalan CF yang 3,3 milimeter (tipe I) serta 5 milimeter (tipe II).

Selain itu, sistem kontak MS ke kamera adalah dengan sistem dijepit, bukan dengan belasan pin, seperti pada CF. Sistem jepit lebih aman pada pengguna yang sangat sibuk sebab meniadakan kemungkinan pin bengkok, seperti pada CF. MS relatif hanya dipakai pada kamera-kamera produk Sony saja.

Jenis memori lain yang juga muncul pada sekitar 2000-an adalah Smart Media (SM) yang dibuat pertama kali oleh Toshiba pada 1995, tetapi baru memasyarakat beberapa tahun kemudian. SM ini sangatlah tipis sehingga untuk kemudahan menyimpannya melebihi kepraktisan MS. Namun, karena sangat tipis (hanya 0,76 milimeter), kartu ini mudah bengkok dan rusak.

Pada awalnya, SM ini dipakai oleh Fuji dan Olympus. Namun, sejak tahun 2002 Fuji dan Olympus mengembangkan memori mereka sendiri yang dinamakan eXtreme Digital (XD). Fuji dan Olympus menganggap, sistem SM cukup bagus untuk sistem input-output-nya, tetapi buruk untuk ukuran fisiknya. Maka,😄 dikembangkan dengan ukuran yang sedikit lebih tebal, tetapi dengan dimensi yang lebih kecil.

Dan, di tengah berbagai persaingan kartu memori itu, pada 1999, tiga perusahaan, yaitu Panasonic, Sandisk, dan Toshiba, mengembangkan kartu memori yang dinamakan Secure Digital. Ketiga perusahaan ini mempelajari bahwa pada era itu kartu memori juga merupakan kebutuhan telepon seluler, bukan semata kamera.

Desain SD sebenarnya pengembangan MMC yang dirancang Siemens dan Sandisk dua tahun sebelumnya. Dengan ukuran fisik yang persis sama, SD memungkinkan kapasitas rekam yang lebih besar.

Pada awal 2000-an, MMC dipakai di telepon seluler, sementara SD di kamera-kamera saku. Adapun CF dipakai di kamera- kamera profesional yang populer.

Popularitas CF dan SD

Pelan tetapi pasti, aneka kartu memori mulai terseleksi oleh pengguna. Satu per satu berguguran karena dinilai pemakai tidak praktis dan mahal. Beberapa perusahaan, seperti Sony, Olympus, dan Fuji, mulai melirik popularitas CF.

Pada kamera Sony F828, MS ditandemkan dengan CF. Tampaknya Sony berpikir bahwa kalau memori F828 hanya MS, penjualannya akan terganjal pada sempitnya pilihan memori. Terbukti dengan memakai dual memori (CF dan MS sekaligus) F828 cukup digemari publik.

Demikian pula Olympus yang meluncurkan E-1 dan E-300 pada 2004. Selain memakai😄 yang mereka kembangkan, kamera-kamera terbaru Olympus juga bisa memakai CF.

Akhir 2009, pemakaian SD pada kamera Olympus EP-1 membuktikan, SD adalah pilihan di masa depan. Tampaknya pilihan kartu memori makin mengerucut dan pilihan itu adalah SD. Setelah SD biasa yang maksimal 4 GB, muncul SDHC yang bisa sampai 64 GB, kini muncul SDXC yang bisa sampai 2 TB (terra byte)