Kecerdasan Bisa Dilihat dari Jumlah Bahasa yang Dikuasai

Senin, 22 Februari 2010 | 16:17 WIB

Bandung, Kompas – Praktik multilingual atau menggunakan lebih dari satu bahasa dalam kehidupan sehari-hari diyakini bisa menyejahterakan masyarakat. Mereka akan lebih dihargai dan leluasa mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki.

“Seseorang akan lebih mudah menemukan jati diri dan potensinya bila leluasa menggunakan banyak bahasa, baik daerah, nasional, maupun asing. Hal itu bisa membantu pengembangan kemampuan dan kepercayaan diri,” ujar Prof Mikihiro Moriyama dari Jurusan Studi Asia, Universitas Nazan, Nagoya, Jepang, dalam peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional di Bandung, Minggu (21/2).

Mikihiro menjelaskan, ada pendapat keliru dari beberapa pihak yang mengatakan, penggunaan satu bahasa adalah yang terbaik karena mampu mempersatukan bangsa. Hal itu juga pernah dilakukan Indonesia di zaman Orde Baru.

Pandangan itu, ujar Mikihiro, harus segera diubah. Alasannya, selain tidak berada di masa perang atau revolusi, berbagai konferensi internasional tentang bahasa daerah menyebutkan, pengekangan penggunaan bahasa daerah adalah bentuk diskriminasi hak asasi manusia.

Merasa nyaman

Mikihiro yang fasih berbahasa Sunda ini mengatakan justru banyak hal positif yang bisa diperoleh dari penggunaan bahasa daerah. Masyarakat diyakini bisa merasa nyaman dan percaya diri sehingga mampu mengembangkan aktivitas dan potensi diri menjadi lebih baik.

Penggunaan dan pelestarian bahasa daerah juga diyakini bisa meredam konflik daerah di Indonesia. Keleluasaan menggunakan bahasa daerah membuat masyarakat menjadi lebih dihargai karena bisa memelihara identitas mereka. Salah satu titik hitam konflik di Indonesia, yang salah satu pemicunya adalah minimnya penghargaan lokal, tak lain ialah konflik panjang di Aceh.

Menurut Rektor Universitas Padjadjaran Ganjar Kurnia, banyak penelitian menyebutkan, salah satu indikator kecerdasan seseorang bisa diukur dari jumlah bahasa yang dikuasai. Hal itu menunjukkan kemauan belajar yang tinggi dan mampu menyerap berbagai kosakata dengan baik hingga mampu berkomunikasi dengan orang lain.

“Artinya, kecerdasan seseorang bisa dipicu dengan mempelajari banyak bahasa. Idealnya, seseorang minimal menguasai tiga bahasa dengan baik, yakni bahasa nasional, bahasa yang banyak digunakan secara internasional, dan bahasa daerah masing-masing,” kata Ganjar. Ditanya tentang eksistensi bahasa daerah di Jabar, Ganjar mengatakan tidak terlalu khawatir dengan perkembangannya. Ia yakin dari 40 juta penduduk di Jabar, 60-70 persen di antaranya rutin menggunakan bahasa daerah. Ada tiga bahasa daerah yang dikenal di Jabar, yaitu Sunda, Melayu Betawi, dan Cirebonan.

“Kuncinya, terus melakukan inovasi dalam memperkenalkan bahasa daerah kepada masyarakat,” katanya.

Guru besar Fakultas Sastra Unpad Fatimah Djajasudarma berpendapat, kini generasi muda mulai enggan menggunakan bahasa daerah karena tercampur pengaruh budaya global. Karena itu, ia berharap kalangan masyarakat yang masih rutin menggunakan bahasa bisa menularkan kebiasaannya kepada orang di sekitar. (CHE)

Sumber: http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/02/22/1617525/praktik.multilingual.sejahterakan..masyarakat.