Sabtu, 27 Februari 2010 | 10:11 WIB

SINGKAWANG, KOMPAS.com – Keragaman adalah kehendak Tuhan sehingga harus dilihat sebagai anugerah dan kekayaan negeri ini. Konflik bernuansa etnis atau agama yang melanda sejumlah daerah tidak bisa hanya ditanggapi dengan keprihatinan, tetapi harus segera dijawab. Salah satu jawabannya dengan memasukkan pendidikan multikultural dalam kurikulum pendidikan formal dan nonformal serta membangun karakter bangsa.

Hanya bangsa yang nyaman hidup dalam keberagaman yang maju.

— Aswandi

Persoalan itu mengemuka dalam seminar nasional tentang “Cap Go Meh dalam Kerangka Bhinneka Tunggal Ika” di Singkawang, Kalimantan Barat, Jumat (26/2/2010). Seminar dalam rangka Festival Cap Go Meh Singkawang 2010 dan dibuka Wali Kota Singkawang Hasan Karman itu menampilkan pembicara Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tanjungpura, Pontianak, Dr Aswandi; mantan Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat Letnan Jenderal (Purn) Kiki Syahnakri; Ketua Umum Pengurus Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama Khofifah Indar Parawansa; dan Pastor Robini Marianto OP dari Pusat Kajian Asia Timur Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Aswandi mengingatkan, bara konflik berdasarkan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) di negeri ini masih ada. Bahkan, pada anak-anak SLTA di Kalbar, bara konflik itu ada. Hal itu karena mereka selama ini tak pernah mendapatkan pendidikan yang bisa membangun kebersamaan dengan teman-temannya yang berbeda.

Oleh karena itu, Aswandi menyarankan pentingnya pendidikan multikultural di negeri ini. Sejak dini anak-anak harus dibiasakan hidup bersama dengan saudara-saudaranya yang berbeda, berdialog dalam perbedaan, serta menghilangkan sekat-sekat yang membatasi dan membedakan mereka.

Pendidikan multikultural itu, ujar Aswandi, harus dimasukkan dalam kurikulum pendidikan formal dan nonformal. “Hanya bangsa yang nyaman hidup dalam keberagaman yang maju,” ungkapnya.

Robini menambahkan, keberagaman adalah kehendak Allah. Pluralisme adalah karya Allah. Bahkan, menjadi fitrah manusia. Kebudayaan adalah tempat Allah untuk berkarya.

Ia memaparkan, mengembangkan kebudayaan untuk mendorong kebersamaan harus terus dilakukan oleh semua umat beragama. Hal itu karena kegagalan membangun dialog melalui kebudayaan juga akan merugikan pengembangan agama.

Khofifah dan Kiki Syahnakri mengingatkan, beragam budaya yang tumbuh di negeri ini tidak boleh menjadi pemecah-belah bangsa. Bahkan, kebudayaan adalah perekat bangsa, seperti tergambar dalam makna Bhinneka Tunggal Ika. Berbeda-beda, tetapi tetap satu. Bahkan, kata Khofifah, keberagaman itu pun diakui dalam Piagam Madinah yang dilahirkan Nabi Muhammad SAW. (TRA)

Sumber: http://edukasi.kompas.com/read/2010/02/27/10114822/Mendesak..Pendidikan.Multikultural.