Rabu, 3 Maret 2010 | 17:10 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Selain soal Wajib Belajar 9 Tahun, Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh juga menyampaikan tentang paradigma lainnya, yaitu tentang pentingnya pendidikan yang komprehensif atau holistik, yang mampu mengeksplorasi seluruh potensi anak.

“ Potensi kekuatan batin, karakter, intelektual, serta fisik itu harus kita integrasikan menjadi sesuatu kekuatan dari sang anak.

— Mohammad Nuh “

”Potensi-potensi yang berupa kekuatan batin, karakter, intelektual, serta fisik. Semua itu harus kita integrasikan menjadi sesuatu kekuatan dari sang anak,” ujar Mendiknas saat membuka Rembuk Nasional Pendidikan 2010 di Pusdiklat Pegawai Kementerian Pendidikan Nasional, Depok, Jawa Barat, Rabu (3/3/2010).

Mendiknas juga menekankan tentang pentingnya pendidikan karakter. Dia mengatakan, bobot atau persentase pendidikan karakter perlu mendapatkan perhatian khusus, mulai jenjang prasekolah, dasar, menengah, sampai perguruan tinggi.

Selain itu, Mendiknas juga menyoroti tentang fungsi sekolah. Sekolah-sekolah negeri, ujarnya, ke depan bergeser menjadi sekolah publik. Pergeseran ini, menurut dia, akan membawa dampak yang luar biasa.

Sebelumnya, kata Mendiknas, sekolah negeri hanya dipakai siswa untuk aktivitas belajar dari siswa itu saja. Sementara sekolah publik, ada ekspansi fungsi dan pemanfaatannya, yaitu tidak hanya siswa dari sekolah itu yang dapat memanfaatkan sekolah, tetapi pada sore hari dapat dimanfaatkan anggota masyarakat dengan koridor yang terkendali.

”Sekolah negeri jangan hanya dikungkung ini milik saya saja, tetapi sekolah negeri itu hakikatnya adalah sekolah publik karena investasinya untuk publik. Tanggung jawab dan tugas kita adalah bagaimana mengekspansi agar sekolah-sekolah negeri bisa memberikan layanan seluas-luasnya,” ujarnya.

Lebih lanjut, Mendiknas meminta agar dalam penyelenggaraan dan pembangunan sekolah baru untuk memerhatikan faktor pasokan dan kebutuhan. Artinya, lanjut Mendiknas, sekolah yang tadinya berdasarkan sisi pasokan (supply oriented) bergeser menjadi berdasarkan kebutuhan (demand oriented).

”Kita harus memberikan layanan kebutuhan siswa, pendidik, tenaga kependidikan, dan orangtua. Dari situlah nanti ujungnya kenapa sekarang bergeser orientasinya, yaitu ingin memberikan keterjaminan dalam layanan itu karena memang tugas kita adalah memberikan layanan,” katanya.

Sumber: http://edukasi.kompas.com/read/2010/03/03/17100977/Mendiknas:.Pendidikan.Harus.Mengeksplorasi.Potensi.Anak