Sabtu, 13 Maret 2010 | 02:49 WIB

DEPOK, KOMPAS – Keunggulan daya saing seseorang ditentukan oleh dua elemen saja, yaitu teknologi dan produktivitas. Nilai sebuah karya ditentukan oleh pasar. Sumber daya alam—terbarukan atau tidak terbarukan—akan diberi nilai di pasar. Tanpa teknologi, nilai itu tak dapat ditingkatkan.

Hal itu juga berlaku untuk hasil karya murni pemikiran dan rekayasa sumber daya manusia. Nilai tambah hanya dapat tercapai dengan memanfaatkan teknik dan teknologi yang tepat. Jika teknologi dapat bersinergi dengan budaya, perilaku dan bakat seseorang yang bersangkutan akan menjadi sangat terampil atau sangat produktif.

Demikian, antara lain, dikemukakan cendekiawan Prof Dr Ing Bacharuddin Jusuf Habibie dalam kuliah umum ”Filsafat dan Teknologi untuk Pembangunan” di Balai Sidang Universitas Indonesia, Kampus Depok, Jumat (12/3). Tampak hadir, antara lain, Rektor UI Prof Gumilar Rusliwa Somantri, Kepala BPPT Dr Or Marzan Aziz Iskandar, dan ratusan dosen dan mahasiswa UI.

Dalam visinya untuk membangun bangsa, Habibie, yang beberapa waktu lalu dianugerahi gelar doktor honoris causa oleh UI dan merupakan sosok ilmuwan atau teknokrat kreatif dan inovatif, kerap melakukan kajian dan penerapan praktis filsafat teknologi. Habibie sangat berminat terhadap aspek kemasyarakatan dan aspek etis dari teknologi.

”Seperti halnya filsafat, teknologi adalah murni hasil pemikiran manusia dan karena itu hubungan antara filsafat dan teknologi sangat erat. Kalau filsafat mengkaji, meneliti, dan menganalisis manusia dalam berbagai aspeknya, teknologi sangat berperan dalam menentukan nasib manusia,” ujarnya.

Dewasa ini tidak ada satu kebijaksanaan pun dapat menyelesaikan masalah tanpa memerhatikan filsafat dan teknologi. Nasib manusia sangat dipengaruhi kemampuan mengembangkan, menerapkan, mengendalikan, dan menguasai teknologi.

”Masyarakat dengan SDM unggul itu akan dapat meningkatkan dan mempertahankan peradaban yang telah dicapai, sejahtera, tenteram, dan berkeadilan. Untuk bisa mewujudkan keunggulan SDM yang demikian, dibutuhkan masyarakat yang merdeka dan bebas serta bertanggung jawab,” ujarnya.

Inti kuliah umum Habibie adalah pembangunan, perubahan, dan pembaruan yang berkualitas serta berkesinambungan hanya dapat dilaksanakan jika tiga persyaratannya mutlak terpenuhi, yaitu memiliki sumber daya alam terbarukan dan tidak terbarukan, memiliki energi terbarukan dan tidak terbarukan, memiliki sumber daya manusia yang mampu mengembangkan, menerapkan, dan mengendalikan teknologi dalam arti yang luas.

Gumilar Rusliwa Somantri mengatakan, Habibie dari pemaparannya menegaskan bahwa industrialisasi melalui alih ilmu pengetahuan dan teknologi atau ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) tidak dapat dikatakan bebas nilai atau kepentingan.

”Iptek menyembunyikan kepentingan, yaitu kontrol dan prediksi. Iptek adalah manifestasi kehendak berkuasa manusia atas alam. Hal ini dapat berakibat fatal apabila tidak dikatalisasi oleh kearifan dan norma-norma etis,” katanya. (NAL)

Sumber: http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/03/13/02493118/keunggulan.ditentukan..teknologi.dan.produktivitas